Hidup Saling Melengkapi

By | June 4, 2012

“Saya ndak punya kepandaian, jadi hanya bisa bekerja seperti ini,” kata seorang tukang becak di hadapan saya, saat ia mampir di warung tempat saya makan. Baru saja ia mengantarkan lemari baru milik tetangga, dan mampir di warung. Emak, si empunya warung tak lain adalah saudara iparnya. Dari perkataannya, nampak ia berusaha membandingkan profesinya dengan profesi saya.

“Lha, kalau tidak ada tukang becak, lantas siapa yang akan mengantarkan orang?” jawab saya sederhana.

Sahabat, barangkali kita temasuk orang yang suka mengeluh dengan profesi kita. Tidak jarang kita membanding-bandingkan profesi kita dengan profesi orang lain. “Kok dia lebih beruntung ya..” gumam kita dalam hati. Sst, jangan-jangan orang lain tersebut juga membandingkan profesinya dengan profesi kita. Dia juga merasa kalah dengan kita. Ups, berarti saling membandingkan donk!

Yah, sebenarnya boleh saja kita membandingkannya, asal bukan menjadi bahan untuk kita mengeluh, merasa kalah nan tidak berguna. Melainkan, semakin membuat kita lebih bersemangat untuk menjadi lebih baik. Sementara, diri dan profesi kita saat ini adalah satu bagian yang harus disyukuri keberadaannya. Coba bayangkan, kalau saja kita tidak ada di lingkungan kita saat ini. Wah, pasti suasananya akan aman, tentram, dan damai. Hehe.. Itu kalau kita bukan termasuk orang yang baik. Tapi kalau kita termasuk orang yang selalu berusaha berbuat baik (bukan merasa baik lho ya..) pasti keberadaan kita akan selalu dibutuhkan.

Sama halnya dengan tukang becak di atas, meskipun hanya sebatas tukang becak, selama ia membecak dengan baik, pasti keberadaannya akan dibutuhkan orang lain. Coba bayangkan lagi, jika tidak ada tukang becak, siapa yang akan mengantarkan orang pulang dari pasar? ya bisa aja tukang ojek, dokar, angkot, bis, dan sebagainya. hehe.. Maksud saya, keberadaan tukang becak tetap dibutuhkan oleh masyarakat, baik yang miskin maupun yang kaya.

Di sisi lain, kita tidak sepatutnya meremehkan tukang becak, atau profesi lain yang semisal dengannya. Kebanyakan dari kita cenderung meremehkan mereka; tukang sampah, tukang sapu, tukang parkir, satpam, dan profesi-profesi kecil lainnya. Maaf, saya tidak bermaksud meremehkan mereka dengan sebutan ‘profesi kecil’, karena yang saya tahu gaji mereka memang kecil. Tukang sampah di tempat saya tinggal sekarang, digaji hanya Rp. 150.000/bulan. Besar atau kecil?

Atau satpam di kampus tempat saya bekerja, digaji Rp. 1.050.000/bulan. Besar atau kecil? Ya memang jauh lebih besar dibanding tukang sampah tadi. Itu pun terkadang masih mendapat bonus perlakuan tidak mengenakkan dari pembesar-pembesar di kampus.

“Kamu tidak kenal siapa saya?” bentak Profesor saat ditanya oleh satpam kampus.

“Karena saya tidak tahu, makanya saya nanya,” jawab satpam dengan entengnya.

Hey, ini nyata, seorang satpam kampus pernah bercerita kepada saya. Bagaimana perasaan kita seandainya kita berada pada posisi satpam tersebut? sakit hati kan? Menjadi orang besar, bukan berarti harus merasa besar dan boleh meremehkan yang kecil. Karena besar dan kecil adalah dua kata yang saling melengkapi. Demikian juga dengan kaya dan miskin. Keduanya harus saling melengkapi. Juga antara laki-laki dan perempuan, pun harus saling melengkapi. *ndaknyambung

Lantas, siapa kira-kira yang kelak melengkapi hidup saya?? hehe.. ;-)

Salam,

_____________

#dari catatan lama : http://irfanandi08.wordpress.com/2011/10/07/hidup-saling-melengkapi/#more-486
#sumber gambar : http://www.treklens.com/gallery/photo183951.htm

2 thoughts on “Hidup Saling Melengkapi

  1. Avatar of Joko Sumahdiawan SE.Joko Sumahdiawan SE.

    saya pernah juga mendapat perlakuan seperti itu….dan ini benar-benar kisah nyata..dari itu semua, saya hanya ambil positive thinking aja. dan saya terus berdoa, bila saya menjadi profesor saya tidak akan memperlakuakan satpam seperti itu…salam sejiwa

Leave a Reply